Sebuah pameran yang menampilkan karya-karya penting yang melihat kembali lanskap dengan cara yang berbeda: sebagai sesuatu yang terus berubah dan dipengaruhi oleh relasi kuasa, dari masa kolonial hingga kapitalisme modern.
23.05-04.10.2026
Tentang Pameran
Menelan Cakrawala (Swallow the Horizon) dibuka dengan sebuah provokasi: cakrawala, terlepas dari tampilannya yang tampak netral, sesungguhnya tidak sesederhana itu. Selama ini dianggap sekadar garis batas pertemuan daratan, laut, dan langit, cakrawala nyatanya adalah sebuah ranah konstruksi di mana pengetahuan diproduksi, wilayah diimajinasikan, dan kekuasaan dijalankan.
Menghadirkan sepilihan karya modern dan kontemporer—dari Raden Saleh, Franz Wilhelm Junghuhn, Heinz Mack, Robert Rauschenberg hingga Dede Eri Supria, I Nyoman Masriadi, Ipeh Nur, dan Thao Nguyên Phan—pameran ini menelusuri bagaimana lanskap dibentuk melalui berbagai berbagai cara pandang (regimes of vision). Dari pencitraan era kolonial hingga refleksi kontemporer mengenai praktik pemanfaatan sumber daya dan krisis ekologi, karya-karya ini mengungkap lanskap sebagai sebuah medan yang aktif, alih-alih sekadar latar belakang yang pasif.
Menelan Cakrawala, sebagaimana yang diutarakan pada pameran ini, pada akhirnya mengakui konstruksi yang berlapis di mana representasi, materialitas, dan kekuasaan tetap menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Tampak instalasi karya (dari kiri ke kanan): - Global Hunter (2007) oleh Jules de Balincourt (l. Perancis, 1972) - Rumah Batavia oleh Amrus Natalsya (l. Hindia Belanda, 1933-2024) - Mooi In(Die) Series-The Last Resort oleh Aditya Novali (l. Indonesia, 1976) - Black Multitude (1962) oleh Zao Wou-Ki (l. Tiongkok 1920-2013) - 2-7-62 (1962) oleh Zao Wou-Ki (l. Tiongkok 1920-2013) pada pameran Menelan Cakrawala di Museum MACAN, Jakarta, 2026. Foto milik Museum MACAN. Fotografer: Liandro Siringoringo.
Moelyono (l. Indonesia, 1957) Trace of survival (2009) Speaker, 400 bungkus makanan tradisional, tanah dari sawah, Dimensi beragam Koleksi milik perupa Tampak instalasi pameran Menelan Cakrawala di Museum MACAN, Jakarta, 2026. Foto milik Museum MACAN. Fotografer: Liandro Siringoringo
Tampak instalasi karya Akiq AW (l. Indonesia, 1976) pada pameran Menelan Cakrawala di Museum MACAN, Jakarta, 2026. Koleksi milik seniman. Foto milik Museum MACAN. Fotografer: Liandro Siringoringo
Tampak instalasi karya (dari kiri ke kanan): - Franz Wilhelm Junghuhn (l. Jerman, 1809-1864) - Karbouwengat (Ngarai Sianok) West Sumatera with the Volcano Merapi oleh Wakidi (l. Hindia Belanda, 1889-1979). Koleksi milik Gajah Gallery - A Distant View (Sarangan, Indonesia) (1956) oleh Lee Man Fong (l. Tiongkok, 1913-1988) - Mega Mendung (1976) oleh S.Sudjojono (l. Hindia Belanda 1913-1985) Lang Jingshan (l. Tiongkok, 1892-1995) pada pameran Menelan Cakrawala di Museum MACAN, Jakarta, 2026. Foto milik Museum MACAN. Fotografer: Liandro Siringoringo
Tampak instalasi karya Franz Wilhelm Junghuhn (l. Jerman, 1809-1864) pada pameran Menelan Cakrawala di Museum MACAN, Jakarta, 2026. Koleksi milik Hermawan Tanzil. Foto milik Museum MACAN. Fotografer: Liandro Siringoringo
Tampak instalasi pameran Menelan Cakrawala di Museum MACAN, Jakarta, 2026. Foto milik Museum MACAN. Fotografer: Liandro Siringoringo
Jan Daniel Benyon (1830-1877) Batavia Landscape (1874) Cat minyak di atas kanvas 98 x 75 cm Koleksi milik Museum Pasifika, Bali Tampak instalasi pameran Menelan Cakrawala di Museum MACAN, Jakarta, 2026. Foto milik Museum MACAN. Fotografer: Liandro Siringoringo
Daftarkan diri Anda untuk menerima newsletter Museum MACAN
Ikuti perkembangan terkini tentang Museum MACAN. Dapatkan newsletter bulanan untuk pameran dan program publik mendatang.